Rahasia Farick

Ketika berpapasan dengan Farick di koridor sekolah, Kinanti ingin berlari menghindari cowok itu. Atau … jika saja memiliki kekuatan magis yang bisa membuatnya menghilang secara tiba-tiba, dia ingin segera merapal manteranya agar bisa lenyap saat itu juga. Sungguh, dia tak ingin melihat wajah cowok itu. Cukup! Saatnya bangun dari alam khayal. Kinanti harus bisa menerima kenyataan bahwa Farick tak akan pernah menjadi miliknya sampai kapan pun. Tak akan!

“Apa kabar, Kinan?” Namun sapaan hangat itu segera menyadarkannya. Ini sama sekali bukan sepenggal paragraf yang tengah dia tulis lalu dapat diubah alurnya sesuai keinginan. Ini kenyataan! Cowok yang selama ini dia kagumi berdiri tegap di depan mata.

Kinanti berdiri kaku menatap ujung sepatu yang dikenakannya, menghindari tatapan kakak kelasnya itu. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasa, membuat kalimatnya kaku dan terbata. “Maaf—aku harus segera masuk kelas, Kak.”

“Masih terlalu pagi,” sergah cowok itu dengan suaranya yang khas, berat dan rendah. “Lagian, Sita absen. Dia demam tinggi. Kamu mau menjenguknya siang ini? Aku bisa antar—”

Ah, mengapa harus Farick yang lebih banyak tahu tentang Sita ketimbang aku, sahabatnya? Resah melanda. Tiba-tiba saja kesal, jengkel, bingung dan cemburu berbaur menjadi satu. Yah, Kinanti cemburu pada Farick dan Sita. Sudah dua kali dia memergoki mereka tengah berduaan. Kalau mereka tak ada hubungan istimewa, lalu apa?

“Aku ke kelas dulu,” ujar Kinanti lirih. Sekuat tenaga dia mengatur nada suaranya agar tak terdengar aneh. Tekadnya kian bulat, mulai saat ini harus mampu melupakan Farick. Kinanti tak ingin terluka. Terlebih, tak ingin menghancurkan persahabatannya dengan Sita.

***

Kinanti berbeda dengan cewek-cewek lain di sekolahnya. Ketika yang lain pergi ke mall atau duduk-duduk di café, dia memilih belajar. Baginya, lebih baik menghabiskan waktu di perpustakaan yang sepi. Terdengar klise mungkin, tetapi dia tak peduli.

Sejak kepindahannya ke SMA Darma Mulia Yogyakarta hampir delapan bulan yang lalu, hanya Sita yang menjadi teman dekatnya. Mungkin karena Sita teman sebangku, membuatnya cepat akrab. Sita, selain cantik dan terkenal di sekolah, dia juga sangat baik. Kinanti memilih sekolah ini, ketika ibunya mendapatkan pekerjaan di Yogya lalu meninggalkan Wonosari.

Beberapa teman barunya tahu bahwa Kinanti suka menulis. Tetapi tak banyak yang tahu jika Kinanti dibesarkan oleh seorang ibu yang tak memiliki pekerjaan tetap. Hidupnya sangat sederhana. Jika harus membeli keperluan sekolah, dia akan menahan diri untuk tidak jajan sampai uangnya cukup untuk membeli yang dibutuhkan. Tetapi Kinanti selalu memperoleh nilai-nilai yang luar biasa. Itu pula yang menyebabkan keberadaannya cepat tersebar dan menjadi buah bibir di sekolah, terutama di kelasnya.

Perkenalannya dengan Farick sama sekali bukan tanpa disengaja. Kinanti yang duduk di ruang kelas XI dengan jendela yang menghadap ke lapangan basket, sering secara diam-diam memerhatikan cowok itu bermain basket–lebih sering sendirian. Tubuhnya yang atletis, berambut agak panjang yang dibiarkan acak-acakan serta wajah yang bersimbah keringat, begitu mempesona di mata Kinanti. Kalau boleh jujur, dialah tipe cowok impiannya.

“Doi emang cool,” ujar Sita ketika suatu hari memergoki Kinanti tengah mengintip ke luar jendela. “Namanya Farick. Dia duduk di kelas XII A1. Jujur sama gue, lo suka, kan?”

“Apa aku pantas untuk dia?” Kinanti berusaha menyembunyikan merah di wajahnya.

“Kalau lo mau, nanti gue kenalin. Gue janji! Lo mau, kan?”

Meskipun bibirnya berkata tidak, tetapi diam-diam Kinanti mengharapkan janji yang diucapkan Sita akan menjadi sebuah kenyataan. Maka, hatinya bersorak girang ketika suatu hari Sita benar-benar membuktikan ucapannya. Di kantin sekolah, Sita mengenalkannya pada Farick.

Farick menyelaminya, lalu mereka duduk semeja. “Oh, ini Kinanti yang sering nulis cerpen itu, kan? Aku suka baca juga lho,” ujarnya dengan nada suara yang rendah.

“Terima ka—sih. Cuma lagi belajar kok.” Kinanti tergagap. Dadanya dipenuhi dengan berbagai rasa yang begitu sulit dicerna maknanya.

“Bagus kok. Hmm, kapan mau ajarin aku?”

“Ah, a—aku bukan ahlinya, Kak. Tapi—”

Bunga-bunga di hati Kinanti seketika bermekaran. Berbagai harapan bermunculan dan menguatkan angan-angannya. Seandainya Farick mengatakan bahwa dirinya tak memiliki pacar, dia rela mengesampingkan rasa malu dan bersedia menjadi pacarnya saat itu juga. Sayangnya, perkenalan itu hanya berlangsung singkat. Farick termasuk cowok yang tak banyak bicara. Kata Sita, dia jarang bicara kecuali dengan orang-orang yang benar-benar membuatnya nyaman.

Sejak Farick menyalaminya, memandangnya dengan tatapan yang tak biasa, dia sangat mendambakan cowok itu. Kinanti berharap, Farick akan mengisi ruang hatinya yang masih kosong. Dia yang selama ini menutup rapat pintu hatinya, begitu memimpikan Farick. Terlebih, ketika Sita berjanji akan memberikan nomer ponselnya pada cowok itu. Kinanti benar-benar menunggu Farick menghubunginya–meski entah kapan.

Namun, akal sehat segera menyadarkan Kinanti. Tak mungkin cowok cakep yang menjadi idola di sekolahnya itu tak memiliki pacar. Lalu diam-diam, berbagai angan dan harapan itu hanya bisa dia simpan dalam hati. Bahkan pada Sita, dia tak mau berterus terang lagi tentang perasaanya.

***

Sita menatap mata sahabatnya lekat-lekat. “Kenapa lo nggak pernah cerita kalau selama ini dia nge-PHP-in lo? Kelakuan dia nggak gantle banget. Ntar gue bilang ke dia—”

“Eh, nggak usah, Sit.” Kinanti menyela cepat-cepat. “Beneran, aku nggak mikirin dia lagi kok. Banyak tugas sekolah dan lomba menulis yang harus aku ikutin. Aku mau fokus.”

“Jujur sama gue, Kinan. Lo suka sama dia, kan?” tanya Sita penuh penekanan, lalu dijawabnya sendiri. “Ya, lo suka sama dia! Kalau gue jadi lo, gue akan berjuang buat ngedapatin hati Farick. Lo nggak boleh nyerah, Kinan. Tunjukkan kalau lo ada rasa sama dia—”

“Tapi, Sit. Mungkin dia sudah—”

“Nggak pakai tapi-tapian. Dapetin dia sekarang, atau lo akan keduluan yang lain!” sergah Sita serius. “Gue siap bantu, Kinan. Tapi lo kudu serius.”

Mendapat sulutan dari Sita, Kinanti kembali bersemangat. Meskipun dia belum tahu bagaimana menunjukkan rasa pada Farick, dia bertekad harus bisa mendapatkan cowok itu. Namun, ternyata semua di luar dugaan. Dia hampir tak percaya ketika suatu hari memergoki Sita dan Farick tengah duduk berdua di sebuah café. Semula Kinanti menganggap itu hal biasa. Namun melihat bagaimana mereka berpandangan, dia yakin mereka bukan hanya berteman. Saat dirinya melihat Sita membonceng motor Ninja 250 yang dikendarai Farick, dia masih berusaha menepis anggapannya bahwa mereka memiliki hubungan istimewa. Tetapi melihat bagaimana Sita memeluk cowok itu, dia mematahkan keyakinannya.

***

Segera setelah pelajaran usai, Kinanti menjenguk Sita di rumah sakit. Namun lagi-lagi kenyataan menyakitkan yang dia temui. Dari pintu yang terbuka setengahnya, Kinanti melihat Farick tengah menggenggam tangan Sita yang terbaring di depannya. Dengan menahan berbagai rasa yang bergolak, Kinanti berjingkat menjauhi pintu dan berniat untuk segera pulang. Dia tak peduli ponselnya berdering. Yang ada dalam pikirannya dia harus segera berlalu dari sana.

Baru setelah mencapai jalan raya, Kinanti membuka HP-nya. Ada beberapa miss call dari nomer ponsel yang tidak dia kenal. Sedetik kemudian, nomer yang sama mengirimkan sms. Agak ragu Kinanti membuka pesan singkat itu.

“Kalau jadi ke RS, Sita minta dibawain hakau udang favorit-nya. Bisa, kan? Please.”

Deg! Ini pasti nomer ponsel milik Farick. Meskipun Kinanti yakin dugaannya benar, tak urung dia membalas sms itu dan bertanya, “Maaf, ini nomer siapa?”

“Ini Farick. Jadi ke RS? Kita bareng ke sana ya, mau?”

Tiba-tiba Kinanti merasa benci pada Farick. Mengapa dia masih berpura-pura bersikap manis? Dan Sita, bagaimana dia tega melakukan semua ini pada sahabatnya? Pertanyaan-pertanyaan itu berjejal menyesaki kepalanya. Dia kesal, sebal dan ingin berteriak.

Genangan bening mengambang di kedua bola mata cewek berambut ekor kuda itu. Dia tak peduli berpasang-pasang mata di dalam angkot memandangnya dengan tatapan heran. Dia ingin menumpahkan kekesalannya. Bibirnya bergetar menahan sakit yang menyayat-nyayat ulu hatinya. Bukan! Bukan sakit oleh sebuah kenyataan bahwa dia hanya bertepuk sebelah tangan, melainkan pengkhianatan yang dilakukan oleh Sita, seorang sahabat yang dia kenal begitu baik.

“Gimana, jadi  pergi bareng, kan? Tunggu di gerbang sekolah, oke?”

“Nggak usah, Kak. Aku nggak bisa ke rumah sakit. Maaf.”

Baru saja dia menyudahi percakapan dan hendak memasukkan HP  ke tas, ketika ada panggilan masuk. Dari Sita! Oh, God. Apa lagi yang akan disampaikan cewek itu?

“Kinan, sore ini gue udah dibolehin pulang. Lo ke rumah gue ya?” 

 ***

Kinanti duduk di hadapan Sita. Dia siap mendengarkan bualan dan omong kosong sahabatnya itu. Dia sudah berjanji, akan ikhlas menerima kenyataan pahit apa pun. Semua demi Sita dan demi persahabatannya yang dia nilai lebih dari segalanya.

“Farick suka sama lo, Kinan,” kata Sita pelan, seolah tanpa beban. “Dia sedang mencoba menguatkan hati dan mengumpulkan keberaniannya untuk bilang langsung sama lo.”

“Sit, aku datang ke sini bukan untuk membahas tentang dia—”

“Mungkin lo udah bosen dengar omongan gue. Tapi gue tahu, hati kecil lo nggak bisa berbohong. Lo suka sama dia. Tapi kenapa lo nggak punya nyali nunjukin itu ke dia?”

“Sita, aku nggak mau menghancurkan persahabatan kita. Sungguh.”

“Maksud lo?”

Ting tong! Suara bel berdentang. Sita beranjak menuju pintu.

“Aku tahu hubungan kalian seperti apa. Kamu nggak usah menyembunyikan semuanya dari aku, Sita.” Tiba-tiba Kinanti ingin menumpahkan kekesalannya saat ini juga. Dia sudah cukup bertahan selama ini. Saatnya Sita mengerti bagaimana luka hatinya. “Kamu sahabatku, Sita. Seharusnya kamu bisa jujur sama aku. Seharusnya—”

Kinanti terpaku di kursi dan tak mampu meneruskan ucapannya. Farick dan Sita dengan senyum menyebalkan duduk di hadapannya. Astaga! Makhluk sejenis apa mereka, begitu tak mengerti perasaan orang lain?

“Ini Farel, kakak kembar Farick dan pacar gue.” Sita mengenalkan cowok berwajah Farick itu. “Gue sama Farick berteman sejak kelas satu. Makanya gue tahu dia suka lo sejak kalian bertemu. Selain orangnya lumayan tertutup, Farick ragu menyampaikan isi hatinya sama lo. Takut, lebih tepatnya. Dia takut lo kecewa karena setelah lulus akan melanjutkan kuliah di Ausie. Dia takut nggak bisa LDR-an.”

“Dia pernah cerita tentang kamu. Dia cinta mati katanya,” ujar Farel kemudian. “Tapi dia nggak pede hanya karena dia korban broken home. Lain dengan aku yang bisa cuek dan masa bodoh, Farick terlalu perasa. Dia tak suka orang lain tahu masalahnya, lebih suka menyendiri.”

“Sekarang terserah lo,” sambung Sita. “Mau terima dia jadi pacar lo atau merelakannya jadi milik cewek lain? Lo pikir masak-masak sebelum dia datang ke sini.”

Kinanti diam seribu bahasa. Namun diam-diam dia tengah mereka-reka rencana, apa yang akan dia lakukan jika Farick benar-benar hadir di hadapannya.

***

Pernah tayang di GoGirl online pada 17 Desember 2016

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *