Kejutan di Balik Huruf Keriting – Cerpen Oky E. Noorsari

Fay bolak-balik melirik pintu kelas. Namun yang ditunggu belum juga datang. Dia sudah menunggu hari ini sejak seminggu yang lalu. Fay tahu akan ada kejutan. Pasti ada, dan dia tak sabar untuk menyambut kejutan itu.

“Fay! Sssttt…!”

Dua kepala menyembul dari jendela lebar kelas yang menghadap ke taman dalam. Mai dan Keke. Keduanya melambaikan jari mengundang Fay untuk keluar.

Ruang kelas Fay terletak di ujung, berbatasan langsung dengan pintu keluar menuju halaman samping sekolah. Di sanalah Fay menemui kedua sahabatnya.

“Ini! Selamat ulang tahun, Fay!”

Bergantian Mai dan Keke menyodorkan pipi pada Fay dan memberikan hadiah mereka.

“Apa ini?” Fay menepuk-nepuk dua benda berbalut kain pembungkus yang manis itu.

Tiba-tiba beberapa anak menghambur keluar dari kelas Fay. Dari tempatnya berdiri, Fay bisa melihat mereka berlarian menuju gerbang sekolah. Fay sendiri heran dengan irama tak jelas yang mendadak bermain di dalam dadanya. Ada apa?

Fay dan dua sahabatnya bergerak mendekati kerumunan. Saat keramaian itu tersibak oleh seorang guru, langkah Fay mendadak terhenti.

‘Astaga! Ben!’

Fay tak bisa lebih mendekat untuk tahu lebih jelas karena murid-murid yang menghampiri semakin banyak. Dia hanya bisa bertanya acak pada siapa saja.

“Ben keserempet mobil waktu menyeberang .”

“Lengannya retak!”

“Mau langsung diantar ke rumah sakit katanya.”

Irama di dada Fay semakin kacau, apalagi dia belum berhasil melihat keadaan Ben secara jelas.

“Fay! Ayo!”

Mai menarik tangan Fay. Waktunya masuk kelas. Bel sudah berbunyi satu menit yang lalu.

*

Sumber: KawanImut

“Aku sudah nggak papa. Nyerinya waktu awal aja. Sekarang tinggal sabar menunggu gips ini dilepas.” Ben mengetuk lengannya yang terbalut semen putih dengan ujung bolpoin. “Dan kamu tahu? Gips sekarang lebih ringan tapi lebih kuat, jadi proses penyembuhan bisa lebih cepat.”

Meski Ben bilang begitu sambil menyeringai, tetap saja Fay tidak bisa menghapus cemas dari wajahnya.

“Hari ulang tahunku, justru jadi hari sialmu, Ben.”

Ben mengernyitkan hidung.

“Aku bisa sial kapan saja.” Tangan kirinya bergerak mengambil buku-buku dari atas meja Fay. ”Aku pinjam dulu, ya.”

Sebenarnya Fay sudah menawarkan untuk menyalin catatan pelajaran selama tiga hari Ben tidak masuk sekolah. Tapi Ben tidak mau. Fay tergolong lamban saat menyelesaikan tugas. Bisa-bisa dia akan kerepotan sendiri kalau waktunya tersita untuk membantu Ben.

“Seru juga belajar menulis dengan tangan kiri. Bisa sekalian mengaktifkan otak kananku,” ujar Ben riang.

Mau tak mau Fay ikut tersenyum. Meski dalam hati dia kecewa. Bukan itu kejutan yang dia tunggu dari Ben. Cowok itu bahkan belum mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ah, kenapa Fay jadi egois?

*

“Hei, kamu nggak mau ikut menulis sesuatu di sini? Nanti keburu penuh.” Ben menunjuk lapisan gips-nya yang tidak lagi putih bersih. Beragam ucapan singkat dan tandatangan teman-teman dengan tinta aneka warna membuat lengan Ben mirip dengan tembok luar sekolah. Penuh dengan graffiti.

Fay menggeleng. Dia tak ingin menorehkan namanya karena percuma. Goresan namanya akan tenggelam, tertimpa oleh torehan nama teman-teman yang lain. Tak ada istimewanya.

“Sudah penuh begitu. Namaku tetap tak akan terbaca.”

Ben memandangi lengannya yang terbalut gips, lalu mengangguk mengiyakan.

“Oke. Sekarang, mana catatanmu? Aku mau pinjam lagi.”

Selama menulis dengan tangan kiri, catatan Ben selalu tertinggal karena kecepatan menulisnya hanya sepertiga dari kecepatan normal. Fay senang-senang saja meminjamkan catatannya. Dengan begitu dia merasa berarti.

Fay pernah sempat mengintip buku catatan Ben. Dia ingin tahu seperti apa hasil tulisan dengan tangan kiri. Ternyata tulisan tangan Ben yang keriting makin tak jelas bentuknya. Lagi-lagi Ben menolak untuk disalinkan catatannya.

“Biar jadi kenangan, Fay. Tiap kali melihat tulisan yang amburadul ini, aku akan ingat kejadian patah tulangku.”

Tepat di hari ulang tahunku,’ lanjut Fay dalam hati.

*

“Rasanya sejak ulang tahunmu sebulan lalu, kamu jadi kurang semangat gitu.” Mai bertanya sambil menyeruput minuman sodanya di jam istirahat.

“Kamu nggak suka ya, kado dari aku sama Mai?” Giliran Keke bertanya. Sepertinya mereka berdua sudah kompakan ingin menegur Fay.

Fay menggeleng. Dia berusaha tersenyum, tapi tetap saja senyumnya terlihat malas.

“Aku suka banget novel dari kamu Mai, malah sudah selesai aku baca,” Fay menoleh pada Keke, “gantungan dream catcher-mu juga lucu. Aku pasang di bingkai jendela kamar.”

“Terus? Kenapa?” Mai dan Keke hampir bersamaan menyerukan pertanyaan mereka.

Fay hanya bisa bergantian memandang dua sahabatnya. Meski mereka berteman akrab sejak kelas X, Fay masih belum bisa bercerita tentang semua hal pada Mai dan Keke.

“Nggak ada apa-apa, sungguh!”

Fay memutuskan untuk menyimpan rahasia hatinya dan terselamatkan oleh bel masuk.

*

“Fay!” Tiba-tiba saja Ben sudah duduk di seberang Fay.

Meja baca yang Fay pilih berada di sudut terdalam ruang perpustakaan. Meski jauh dari deretan rak buku, tapi jendela di situ lebar. Banyak cahaya yang masuk membuat Fay lebih nyaman membaca.

Ben mengeluarkan lengan kanannya dari dalam kain gendongan. Tangan kirinya mengulurkan spidol biru bermata besar.

“Nggak, Ben. Sudah penuh begitu.”

Ben memaksa. Tangan kirinya tetap mengulurkan spidol.

“Minggu depan gips-nya dibuka. Aku mau ada namamu di sini.” Ben perlahan membuka telapak tangannya.

“Untuk Fay, ada tempat khusus.”

Fay melihat gips di bagian telapak tangan Ben yang masih bersih meski tak lagi putih. Rasanya seperti menerima kejutan yang sudah dia tunggu-tunggu. Tangan Fay gemetar waktu menggoreskan namanya. Besar-besar, memenuhi balutan gips di telapak tangan Ben.

“Oya, aku sudah kembalikan buku-buku yang terakhir aku pinjam, ya. Aku taruh di laci mejamu.”

Sepeninggal Ben, Fay menangkupkan tangan di kedua pipinya yang menghangat. Sepertinya dia tak perlu kejutan manis lagi dari Ben.

*

“Duluan aja! Tunggu di depan, ya.” Fay melambai pada Mai dan Keke.

Fay berkutat mengatur isi tas sekolahnya yang mendadak kepenuhan karena tambahan buku-buku yang dikembalikan oleh Ben.

Dari satu buku yang terjatuh dan terbuka pada halaman belakangnya, Fay menangkap goresan huruf-huruf keriting yang sangat dikekenalnya. Sebuah bait puisi yang diakhiri dengan ucapan yang manis.

 Selamat Ulang Tahun, Fay…
Kejutan seperti ini sudah aku rencanakan,
Dan aku justru menuliskannya dengan buruk sekali.
Tapi seperti pernah aku bilang,
Biar ini menjadi kenangan.

Kali ini Fay baru betul-betul yakin. Yang diterimanya adalah sebuah kejutan. Kejutan dalam huruf-huruf keriting.

***

================

Oky E. Noorsari, ibu rumahtangga yang menggemari literasi. Karyanya pernah terbit di beberapa buku antologi. Cerpennya pernah dimuat di Majalah Sekar, Taman Fiksi (Online Mag), Kawanku, dan Majalah Gadis. Berdomisili di Bantul – DIY, dapat dihubungi melalui email : noorsari.oky@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *