Teppuk Pusokh- Cerpen Adam Yudhistira

Panato duduk melamun di tepi Way Semaka sambil memeluk lutut. Seharusnya ia ada di rumahnya sekarang. Upacara teppuk pusokh untuk bayi Halimah yang baru saja lahir beberapa jam yang lalu tak bisa dilaksanakan tanpa kehadirannya. Tetapi Panato enggan pulang. Ia hanya ingin duduk di situ beberapa lama lagi, sampai kecamuk hebat di kepalanya  mereda.

Sudah sembilan bulan ini rongga kepala Panato dilamun badai. Terhitung sejak ia mendapati Halimah muntah-muntah pada suatu pagi. Perempuan itu mengaku perutnya  berisi calon bayi. Pengakuan itu terang saja membuat Panato terkejut. Bagaimana mungkin perempuan itu bisa berbadan dua, jika ia saja ragu pada kejantanannya?

Keraguan itu datang bukan tanpa sebab. Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk menanti kehadiran seorang buah hati. Tahun-tahun penantian itu dilewati dengan penuh drama. Segala upaya telah dilakukan untuk mendapatkan seorang anak sebagai penyempurna rumah tangga. Namun semua usaha itu berujung sia-sia. Semua juru pengobat yang didatanginya satu suara; kecil kemungkinan bagi Panato untuk memiliki keturunan.

Terlalu lama menanti, membuat Panato tak tahu, masihkah keinginan untuk memiliki buah hati menjadi tujuannya bertahan hidup bersama Halimah. Ia juga sudah merelakan dirinya apabila garis tangan menuliskan ia tak akan memiliki keturunan. Sampai kemudian kabar itu datang, dan membawa rasa curiga sedemikian besar di dada Panato, bahwa janin yang tertanam di rahim Halimah bukanlah miliknya.

Hari-hari menanti besarnya janin tersebut adalah penderitaan panjang bagi Panato. Rasa percaya pada kesetiaan perempuan itu tergerus sedikit demi sedikit. Ia mati-matian meredam segenap perasaan curiga, benci, kecewa, sakit hati dan amarah yang bergumpal-gumpal di dada. Tetapi entah mengapa, rasa cintanya untuk Halimah, masih belum terlampaui sampai hari ini.

Kesabarannya memang pernah meluap satu kali. Pertengkaran hebat itu terjadi pada waktu upacara khukuk limau yang diadakan sekitar empat bulan yang lalu. Malam itu, selepas para tetamu meninggalkan rumahnya, Panato memuntahkan semua perasaan  yang ia pendam berbulan-bulan. Lidah lelaki itu berubah setajam belati, telunjuknya menjadi pancang besi yang menuding langsung ke perut buncit Halimah, mempertanyakan bapak dari janin yang meringkuk di dalamnya.

“Keji betul tuduhanmu padaku!” sangkal perempuan itu dengan mata nyalang karena merasa harga dirinya dihentak-hancurkan oleh Panato. “Aku  bukan pelacur. Anak di perutku ini adalah anakmu!”

“Bagaimana aku bisa percaya jika kau sendiri tahu aku tak pernah mampu melakukannya?” Panato berkilah sengit, menjegal tantangan mata istrinya. “Katakan padaku, siapa lelaki itu? Biar kupenggal batang lehernya dengan parangku ini!”

Sumber: Clipart.com

Pertengkaran itu terjadi bersilang-sambut. Panato menuduh. Halimah berkilah. Kata-kata tajam membandang tak sudah-sudah. Sampai akhirnya raungan panjang melesat dari mulut perempuan itu, memungkasi banjir tudingan dari mulut Panato. Raungan Halimah membuat lelaki itu tersadar. Orang-orang akan mengetahui aib yang ia sembunyikan jika meneruskan pertengkaran. Panato tak ingin jiran tetangga mengetahui, bahwa dirinya adalah lelaki tak bertaji.

Panato pergi meninggalkan rumah. Halimah menangis di pelukan Mak Sunayah. Perempuan tua itu menatap penuh benci pada Panato, seolah-olah ia adalah sumber segala derita bagi anaknya. Namun Panato tak peduli, ia tahu, sejak perut Halimah membesar, harga dirinya telah mengecil dan berangsur mati. Ia keluar malam itu, menuju kedai Mat Boneh, menenggak bergelas-gelas tuak, dan menyirami luka di dadanya.

Sejak pertengkaran malam itu, Panato lebih sering diam dan menyendiri. Ia tak pernah lagi menegur Halimah meskipun masih tinggal serumah. Mereka hanya berbicara seperlunya saja. Apabila siang, lelaki itu lebih banyak menghabiskan waktu di ladang, dan apabila sudah malam, ia menghabiskan waktu di meja kedai tuak Mat Boneh. Panato maupun Halimah sepertinya sudah sama-sama kehilangan kasih sayang. Yang tersisa hanya sebentuk ikatan cinta yang melapuk dari hari ke hari.

***

“Seharusnya dulu Halimah tak menikahi Panato,” ucap Mak Sunayah pada sekelompok ibu-ibu yang sedang membersihkan ikan untuk lauk jamuan para tetamu di acara teppuk pusokh siang nanti. “Tapi entah setan apa yang membuat Halimah terpikat pada lelaki seperti itu.”

Ocehan perempuan tua itu menjadi-jadi. Ia tak menyadari jika menantunya sedang mencuri dengar gunjingannya.

“Kalau waktu bisa diulang, aku lebih memilih Punde menjadi menantuku, ketimbang lelaki yang tak tahu adat itu,” sungut Mak Sunayah.

Di kamarnya, Panato bungkam. Lelaki bernama Punde itu baru diketahuinya. Pagi itu ia memang sengaja malas bangun, agar tak pelu meladeni orang-orang yang datang atas undangan ibu mertuanya di acara Teppuk Pusokh untuk calon bayi Halimah.

“Kalau bukan aku yang menganjurkan Halimah menggelar acara ini, mungkin cucuku itu tak akan putus tali pusarnya,” sambung Mak Sunayah kian sengit menggunjing menantunya sendiri.

Lambat laun suara ibu mertuanya itu menghilang dari pendengaran Panato. Suara perempuan bermulut pedas itu ditindih oleh bayangan sosok lelaki yang bernama Punde. Lantas Panato berusaha keras mengingat lelaki dari masa lalu Halimah itu. Siapa dan seperti apa hubungan Punde dengan istrinya, membuat Panato penasaran. Ia merasa perlu mencari tahu. Sebab pertanyaan tentang siapa bapak dari bayi Halimah, mungkin akan terjawab jika ia tahu siapa sebenarnya lelaki bernama Punde itu.

Sebelum menikahi Halimah, Panato memang pernah diingatkan Marsudi, sejawat akrabnya, bahwa anak bungsu Mak Sunayah itu pernah menjalani satu hubungan serius dengan seorang lelaki dari kampung tetangga. Tetapi ketika itu, rasa suka telah menulikan telinga Panato, hingga peringatan Marsudi hanya membekas seangin lalu.

“Lelaki itu pergi merantau dan tak pernah pulang,” kata Marsudi.

“Jika begitu apa lagi yang mesti aku cemaskan?” tanya Panato.

“Tetap saja, jika tak kau tanyakan benar-benar pada Halimah, masa lalunya bisa menjadi duri dalam rumah tanggamu.”

“Aku tak perlu mencemaskan sesuatu yang sudah kelihatan,” tukas Panato. “Halimah perempuan yang tak memiliki ikatan dengan lelaki mana pun. Ia telah mengakui itu sebelum menerima pinanganku.”

“Hati perempuan adalah ikan yang berenang di laut dalam. Mustahil bisa kau lihat jika tak kaupancing ke permukaan.”

Sekarang ucapan kawannya itu telah menjadi kenyataan. Berat dugaan Panato, lelaki itu mungkin telah kembali dan menemui istrinya diam-diam. Sesal datang begitu terlambat, kenapa baru sekarang ia menyadarinya. Bayi itu telah lahir ke dunia dan sekarang hanya menjadi duri prasangka yang tertancap di dada. Setiap tarikan napasnya, hanya rasa sakit yang dirasakan Panato.

***

Semula, upacara itu akan dilangsungkan tanpa kehadirannya. Namun sesuai tata cara adat pepadun yang berlaku di tanah Lampung, pemotongan tali ari-ari mesti dilakukan oleh bapak si bayi. Sebenarnya, jika Halimah dan Mak Sunayah meminta pendapatnya, Panato pasti tak akan mengizinkan upacara itu dilaksanakan. Bagaimana mungkin ia bisa menyentuh bayi yang bukan berasal dari tulang sulbinya sendiri?

Lama merenung, membuat Panato semakin sedih sekaligus geram. Terlintas pikiran buruk di kepalanya untuk melarungkan diri ke lubuk terdalam Way Semaka. Dengan begitu, akan lenyap pula segala beban di kepalanya.

Ia memandangi arus deras berjeram-jeram itu dengan hati pedih. Perasaan sebagai lelaki kalah telah menggiring langkahnya kian mendekat ke tubir curam Way Semaka. Panato memandang ke bawah. Batu-batu hitam yang terserak itu pasti akan mampu meremukkan dada dan kepalanya. Dan tentu saja, berakhir pula kecamuk badai di di dalamnya.

“Orang-orang telah menunggumu.”

Suara itu membuat Panato menoleh. Halimah berdiri di belakangnya. Niat yang tadi mantap di benak lelaki itu, kini membuyar begitu saja. Hatinya lemah begitu melihat air mata menggenang di mata perempuan itu. Sorot mata itu memandang Panato dengan menghiba.

“Untuk kali ini saja, aku mohon. Setelah itu, jika kauingin menceraikan aku… aku akan menerima, asal jangan kau biarkan anakku terhina.”

Dipandanginya wajah perempuan itu berlama-lama. Gemuruh di dadanya mereda berganti rasa iba. Lima tahun hidup bersama adalah waktu yang cukup untuk menebalkan rasa cinta di hati Panato. Untuk sesaat, semua kesumat tadi lenyap begitu saja.

“Aku akan melakukannya,” ucap Panato dengan wajah cerah, seolah tak ada lagi bibit-bibit kebencian yang bersemayam di hatinya. Kebencian yang mengeras berbulan-bulan ini mencair oleh hangat air mata Halimah.

Kidung puji-pujian mengalun lembut dari bibir para tamu. Liriknya berisikan doa-doa dan ucapan rasa syukur lantaran Tuhan telah menurunkan anak keurunan dalam rumah tangga Panato dan Halimah. Tak ada satu orang pun yang tahu rahasia yang tersimpan di dada mereka. Orang-orang hanya tahu bahwa keduanya sedang berbahagia, menerima keluarga baru setelah menanti sekian lama.

Panato meraih gunting tajam di atas nampan perak dengan jemari gemetar. Bayangan-bayangan pengkhianatan yang dilakukan Halimah mendadak memenuhi rongga matanya. Lelaki itu mungkin tak akan pernah sadar andai saja jerit kengerian itu tak terdengar. Ujung gunting yang tajam di tangannya tidak hanya menetak ari-ari bayi di gendongan Mak Sunayah, tetapi juga telah masuk sedikit demi sedikit ke kulit bayi Halimah yang masih merah.

(*)

 

Catatan:

Teppuk Pusokh, upacara adat potong tali pusar untuk bayi dalam tradisi masyarakat Lampung.

Khukuk Limau, upacara adat selamatan menyambut usia janin lima bulan di dalam kandungan.

============================

Adam Yudhistira bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan online di Tanah Air. Buku kumpulan cerpen terbarunya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017). Dia bisa dihubungi melalui posel  Rambusenyap@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *