Karena Aku Tak Buta


Dunia remaja bukan hanya tentang cinta-cintaan–terlebih kisah cewek dan cowok tabrakan di koridor sekolah, memungut buku yang berserak ke lantai, saling pandang dan lalu jadian. Bukan! Bukan hanya itu.

Jika kita rajin mengamati dan peka, betapa banyak kejadian atau permasalahan yang bisa kita tuangkan ke dalam bentuk tulisan, mulai dari kehidupan sosial, budaya hingga permasalahan lingkungan alam itu sendiri. Dari hasil pengamatan ini, biasanya akan muncul kegelisahan-kegelisahan. Misalnya saja kita tidak suka dengan keadaan, kita tidak bisa terima kenyataan, ada sesuatu yang kita anggap belum ideal, dan banyak lagi kegelisahan yang lainnya. Tapi … jika kita tidak peka dan hanya menerima semuanya sebagaimana adanya, otak kita otomatis akan pasif. Akbibatnya, kita menganggap semuanya biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa.

Buku pertama ini, muncul dari sebuah kegelisahan saya, betapa banyak remaja dan anak muda jaman sekarang yang tak paham, terlebih peduli terhadap budaya bangsa sendiri. Cobalah kalian membacanya, betapa kita merasa tertampar–syukur-syukur bisa menyadarkan hehhe

Judul: Aku Tak Buta (Juara 1 Lomba Menulis Novel ‘Seberapa Indonesiakah Dirimu’ Tiga Serangkai)
– Jumlah Halaman: 330
– Penerbit MetaMind (imprint Penerbit Tiga Serangkaii)
– Harga: 55.000

-Blurb:
Kedatangan Zad ke sebuah desa di pedalaman Magelang, mengantarkannya pada dunia yang selama ini tak pernah disentuhnya. Terlebih, ketika Gendis–gadis desa yang cerdas dan mandiri–hadir mengenalkannya pada Mas Gendro dan Pak Gio, dua tokoh yang begitu gigih memperjuangkan tradisi budaya lokal.

Pemuda metropolitan itu merasa tertampar mendapati kenyataan bahwa sebuah museum permainanan tradisional di Yogyakarta digagas oleh seorang berkebangaan Belgia. Zad berjanji untuk melakukan sesuatu, tidak menutup mata terhadap orang-orang yang melestarikan tradisi budaya bangsa tanpa pamrih.

Sayang, niat baiknya tidak sejalan dengan hidup dan dunia ketiga sahabatnya, Yod, Fya dan Rhean, yang memilih bermewah-mewah dan bersenang-senang. Zad pun merasa sendiri. Belum lagi, perjalanan asmaranya dengan Gendis terancam bubar karena ulah sang papa. Di saat yang bersamaan, teror dari seseorang menghantui hari-harinya.

Kini, Zad dibenturkan pada riak persoalan pelik. Persoalan yang membawanya pada kesadaran akan jiwa “Indonesia” dalam dirinya, yang selama ini terkubur dan membuat jiwanya buta.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *