Ibuku ….

2015-12-29 09.03.32 Ingin kuceritakan kepadamu tentang hal ini sejak kepulanganku ke tanah kelahiran. Kabar burung, barangkali. Namun, tetanggaku mencekoki setiap hari. Dari mulut satu ke telinga lain, dari telinga ke mulut yang lain, lalu sampai kepadaku. Dan kini kuteruskan padamu: ibuku seorang pelacur. Dan pelan-pelan gosip ini menjelma doktrin bagiku, lalu kenyataan. Ibuku, adalah satu bentuk makhluk yang dihargai hanya dari selangkangan.

Aku sempat berpikir, rasanya tak ada alasan bagi ibu untuk melacur. Kalaupun ada, aku tak tahu kapan ia memiliki waktu. Saat aku terlelap, ia mengendap-endap ke luar rumah tanpa sepengetahuan bapak? Ah, entahlah. Yang aku ingat, mereka selalu membangunkanku setiap pagi untuk shalat Subuh berjamaah. Semua itu berlangsung hingga aku lulus SMA. Setelahnya, aku tak banyak tahu. Sebab berkat beasiswa yang kuterima, aku harus hijrah dan menetap di Jakarta selama tiga tahun lebih, menyelesaikan kuliah di universitas ternama.

Setahuku, ibu dan bapak hanya sepasang petani sederhana. Keseharian mereka menggarap sawah-ladang yang tak seberapa. Pekerjaan sampingan ibu selain menjadi tukang urut, sesekali membantu persalinan para tetangga. Sedangkan bapak, kadang-kadang menjadi buruh panggul di pasar Beringharjo ketika padi menjelang musim mrekatak. Ibu dan bapak hidup rukun dan bahagia. Mereka memiliki cita-cita yang luhur, ingin menyekolahkanku hingga menjadi seorang insinyur.

Paras ibu memang lumayan cantik, bahkan hingga usianya menjelang 45-an. Ia memiliki wajah khas perempuan Jawa. Rambutnya yang sekarang lebih sering digelung, dulu berupa kepangan panjang hingga ke punggung. Matanya jernih dan agak menyipit ketika tertawa. Lembut bibirnya selalu berhias senyum. Sekarang, memasuki usianya yang ke-60, ia masih langsing meski tidak lagi singset. Kata bapak, dulu banyak lelaki yang tergila-gila. Bahkan ada dua pejabat kotaraja yang menginginkannya, menjadikannya isteri kedua, isteri simpanan dan entah apa. Tetapi ibu takut menjadi orang kota, ia hanya mau kawin dan beranak-pinak di kampung kelahiran saja. Dan atas seizin simbah, ibu memilih bapak.

Sungguh, aku masih berharap omongan para tetangga yang bersumber dari tetangga sebelah rumah itu hanya mengada-ada. Bisa saja mereka iri dengan keberhasilan bapak dan ibu, petani miskin yang berhasil menyekolahkan anaknya hingga menyandang gelar sarjana.

Nduk, kamu percaya? Kamu percaya omongan mereka bahwa kami menghidupimu dari uang hasil ngelonte ibukmu ini?” cecar ibu dengan mata berkaca. Napasnya naik turun tak beraturan. Berkali-kali ia menyeka genangan bening di sudut-sudut mata menggunakan ujung jarik yang ia kenakan. Bibirnya bergetar menahan isak. Beberapa anak rambut berwarna kelabu jatuh satu-satu di keningnya yang berhias kerutan.

Nyuwun ngapunten, Bu. Saya hanya tidak suka mendengar omongan mereka,” ujarku ingin membela diri. Sejujurnya hatiku sangat teriris melihat ibu menangis. Aku ingin memeluk untuk menenangkan gundah dan pilu hatinya, tetapi ia bergegas masuk ke kamar.

Aku tahu ibu sangat menyayangiku–anak semata wayangnya. Hampir setiap menjelang tidur, ia terbaring di sisiku; mendongengkan si Jaka Tarub atau Ande-Ande Lumut sambil memelukku hingga lelap. Ibu masih sering menawarkan dongengnya bahkan saat aku sudah masuk SMP dan SMA–tentu, tanpa pelukan seperti ketika aku masih SD.

“Duduk dulu, Nduk,” pinta bapak ketika aku hendak beranjak menyusul ibu. “Ibumu ndak sehina itu,” sergahnya kemudian. “Biarkan orang mau ngomong apa. Bapak-lah yang lebih tahu siapa ibumu dari dulu hingga sekarang. Itu pun kalau kamu percaya.”

Aku memberanikan diri memandang wajah bapak. Matanya yang sayu memandangiku. Keriput kulit wajahnya semakin kentara di bawah cahaya sentir di dinding gedek. Wajah tua yang penuh sahaja. Tanpa dusta.

“Justeru ini yang ingin saya bela, Pak.” Kutelusuri pendar-pendar cahaya di mata tua milik bapak–mata yang damai. “Ini tentang harga diri, Pak.”

Telapak tangan bapak yang kapalen, mengusap lenganku pelan. “Nduk, sabar. Keras kepalamu ndak akan menyelesaikan masalah,” sahutnya dengan suara rendah dan berat, tanpa menanggapi ocehanku. “Dan… kalau kamu mau ibumu datang di wisudamu, minta maaflah. Jangan pedulikan orang lain. Ibumu lebih penting dari bualan orang-orang terhormat tak punya hati itu.”

***

Kendatipun ibu dan bapak sudah wanti-wanti melarang, tetapi aku tetap mendatangi rumah pasangan suami isteri kaya yang tak bisa menjaga mulut itu. Mereka hanya pendatang, tak seharusnya bermulut besar dan menyerang penduduk tetap desa ini. Mereka belum genap tiga tahun menempati rumah di sebelah barat rumah kami–rumah tua yang kosong entah sejak kapan. Dengan uangnya yang seabreg, mereka membangunnya kembali menjadi rumah tembok yang lebih besar dan modern. Aku ingin mereka menjelaskan dan meminta maaf atas kelancangan ucapan kotor itu. Mereka harus tahu, ibuku bukan pelacur. Sama sekali bukan!

Namun pasangan suami isteri sebaya ibu dan bapak itu menolak untuk meralat ucapannya, apa lagi bersedia meminta maaf. Tanpa kuduga, sekali lagi si isteri yang berdandan sedikit menor itu menegaskan bahwa benar ibuku seorang pelacur. Ibuku adalah tak lain perempuan simpanan seorang pejabat negara.

“Aku tahu masa lalu ibumu,” ujarnya pelan. “Jangan mencari perkara kalau kamu tidak ingin membongkar aibmu sendiri. Sudahlah, kita sama-sama simpan rahasia ini.”

Darah di seluruh tubuhku mengalir cepat. Seketika degup jantung pun mengencang, dan amarahku bergolak mencapai ubun-ubun. “Kalian sudah berani menghina ibu dan bapak, mencoreng wajah dan mencemarkan nama baik mereka. Saya tak terima… akan memperkarakan ini!”

Pasangan suami isteri itu hanya tersenyum dan menutup pintu rapat-rapat. Aku kalap. Kugedor pintu jati tebal itu sekuat tenaga hingga aku lemas. Ketika aku menjadi tontonan beberapa tetangga, tatapanku berkunang. Bapak datang tergopoh dan memapahku pulang.
***

Aku meminta izin pada ibu dan bapak untuk menyelesaikan masalah ini. Tak ada seorang pun yang berhak menyakiti dan menghina orang tuaku. Aku berjanji pada ibu dan bapak akan segera melaporkan dan menuntut tetanggaku; membersihkan nama baik bapak dan ibu. Namun sungguh jawaban tak terduga yang aku dengar. Sedu sedan, ibu memohon agar aku mengurungkan niat. Aku tak paham. Bagiku, harga diri mereka sudah dinjak-injak. Tetangga yang kurang ajar itu harus diberi pelajaran.

Ibukmu, kata orang memang pelacur, Nduk,” ujar ibu pelan, nyaris tak terdengar.

Nyuwun sewu. Kata orang, Bu? Lalu, mengapa Ibu tak pernah menyangkal? Mereka menghancurkan nama baik Ibu.”

“Tak ada yang bisa Ibu lakukan. Penduduk desa memang menganggapnya demikian,” jawab ibu dengan bahasa tubuh yang sama sekali tak mampu kupahami. “Tapi itu dulu. Sekarang dia sudah tenang di alamnya sana.”

Kuperhatikan gerak bibir ibu di antara genangan bening di matanya. Degup jantungku seolah berhenti lalu menggumpal di ubun-ubun. Sesak dadaku. Tidakkah aku sedang salah memaknai ucapan ibu? Tapi… ibu tak pernah bohong. Sungguh, aku ingin berteriak, mengadu pada langit. Oh, Sang Penguasa Jagat Raya, kenapa ini harus terjadi?

“Ibu kandungmu adalah Turmi, bukan Ibuk yang merawat dan membesarkanmu ini,” tutur ibu lagi setengah berbisik. Suaranya mendesis di antara gigi-giginya. “Ayahmu juga bukan Bapak yang selalu menjaga dan melindungimu ini. Dua puluh tahun silam, kami mengambilmu sebagai anak, ketika Turmi dihabisi perempuan dari Kotaraja yang mengaku sebagai isteri orang paling penting di pemerintahan.”

“Bapak… Ibu, lelucon macam apa ini?”

“Turmi asli orang sini, Nduk.” Bapak menimpali dengan suara bergetar. “Dia dijadikan isteri simpanan si Orang Penting tersebut dan keberadaannya disembunyikan. Turmi menjaga warisan tujuh turunan dari sang suami. Dan kamu tahu? Rumah sebelah barat yang magrong-magrong itu, dahulu juga miliknya, jadi persembunyiannya. Tapi, serapi-rapinya menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga. Keberadaan Turmi dianggap membahayakan kedudukan dan masa depan si Orang Penting, maka jejaknya harus dihilangkan. Hartanya berpindah tangan pada perempuan kotaraja yang ternyata juga isteri simpanan yang kesekian.”

Dadaku semakin menyesak. Seperti ribuan genderang perang yang ditabuh bersamaan, suara-suara itu berdenging di pendengaran yang kian menuli.

Lamat-lamat masih kudengar bisikan ibu di telingaku. “Hampir tiga tahun lalu, sepasang suami isteri dari kotaraja datang dan membangun kembali rumah tua yang pernah ditinggali Turmi. Mereka tak lain adalah kaki tangan ayahmu. Pasangan suami isteri yang terlalu menutup diri itu, sengaja disembunyikan untuk menghilangkan jejak kekayaan ayahmu yang lain. Lalu ayahmu, si Orang Penting itu? Sekarang ada di dalam sel entah untuk berapa lama. Kasus bagi-bagi harta dan jabatan yang marak terjadi di gedung wakil rakyat belakangan ini, telah terbongkar dan menyeret nama besar ayahmu… juga beberapa kaki tangannya.”

Aku yakin, kali ini ibu dan bapak tidak sedang mendongeng untuk mengantarku ke peraduan. Dalam sesaat kepalaku pusing dan pandanganku menggelap. Lalu, apa lagi yang harus kuceritakan kepadamu?
***

Dimuat di Tabloid Nova edisi 28 Desember 2015 – 3 Januari 2016

19 thoughts on “Ibuku ….

  1. Endingnya nggak terduga, biasanya masa lalu ibunya pelacur kemudian bertaubat, tapi di awal cerita di sampaikan setiap pagi shalat shubuh berjamaah. Ini makin mengacaukan rasa penasaran. Jebulnya gak disangka kalau tokohnya anak tiri. Hehe.. Apik mas bro.

  2. aku belajar banyak dari cara Mas Redy bikin twist ending seperti ini. Lain waktu ku-tag di KBM untuk kumintai krisan ya Mas?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *