Tukiman Tahuri

Sudah dua hari Tahuri meradang. Lelaki berbadan gempal itu sungguh berang. Mulutnya yang berbau tembakau busuk terus mengumpat, menyebut-nyebut perempuan bernama Asri. Berbagai jenis nama hewan pun ikut dirapalnya demi menggambarkan perempuan yang dibencinya itu. Lelaki itu mondar mandir di depan sebuah kamar berdinding kumuh. Gusinya gemeretak, menyebabkan bibirnya yang hitam dan tebal semakin mengatup menciptakan lengkungan aneh.

Tahuri benar-benar muak terhadap perempuan seperempat abad itu. Namun, ia yakin tak mampu begitu saja melupakan dan meninggalkannya. Inikah cinta? Genjik! Umpatnya kembali. Ia duduk dan menyalakan rokok filter entah yang keberapa. Tak seberapa lama, mulut dan hidungnya mengepulkan asap tebal seumpama lokomotif. Asri tak pernah henti menghantui pikiran Tahuri. Ia merindukan kehadiran perempuan keras kepala itu. Asri memang tak ada duanya. Tetapi perempuan sintal itu sudah dua hari menghilang.

Screenshot_2015-10-04-19-57-28“Katanya dia sudah menempati kamar barunya, Mas,” cerocos perempuan muda bertubuh tambun di kamar sebelah. “Di sana lebih enak; kamar mandinya di dalam dan nggak bau apek.”

Lelaki itu menerka-nerka, hotel melati yang baru selesai dibangun di sebuah tanjakan itulah tempat Asri sekarang tinggal. Tak heran, kamarnya yang mereka tempati memang tak ubah kandang ayam. Selain itu, si pemilik menetapkan tarif baru yang sangat mencekik. Semua serba naik, katanya beralasan. Tentu, bukan itu alasan utama bagi Asri. Ia memiliki lelaki lain dan akan tinggal bersama di tempat yang lebih nyaman. Belakangan, banyak hotel melati di sekitaran Bandungan menawarkan kamar sebagai hunian.

“Aku sudah ke sana, Yu!” suara Tahuri naik beberapa oktaf. “Tapi kamarnya selalu saja kosong. Apa mungkin mereka sudah minggat dari sini?”

“Nggak mungkin!” balas perempuan bergincu warna norak itu tak kalah seru. “Paling banter dia nyewa kamar yang lain di Bergas. Di sana juga banyak tamu, di tempat karaoke dan kafe-kafe baru. Dia nggak akan jauh-jauh dari sini, Mas. Tapi yang jelas, sekarang dia punya berondong pendatang baru. Bukan hanya muda, tapi lebih segalanya dari sampeyan.”

Genjik kowe! Kugorok lehermu, baru tahu rasa!”
Perempuan itu terkekeh. “Nyatanya begitu kok!” ocehnya seraya merapatkan lilitan handuk di dadanya. “Terima kenyataan, sudah saatnya sampeyan pensiun.”

Tahuri geming. Namun terngiang kembali ucapan Asri dua hari yang lalu. “Kita sudah tak ada kecocokan, Kang. Hubungan kita berlawanan arah.” Sok bijak benar perempuan itu. “Asri nggak peduli Akang dengan siapa. Akang juga harus merelakan Asri dengan yang lain.”

“Dasar lonte kowe, Sri!” hardik Tahuri berapi-api. Matanya yang hitam nyalang memandangi Asri yang jumawa. “Kowe lali omonganmu dewe heh? Lali kowe, Sri?”

“Nggak usah mengungkit-ungkit masa lalu, Kang,” ujar Asri tenang. “Antara kita nggak pernah ada perjanjian apapun. Kita hidup bersama hanya karena saling membutuhkan. Itu saja kok! Nggak usah melankolis begitu. Teu pantes, Kang!”

Ingin rasanya Tahuri membunuh perempuan berhidung palsu itu sesegera mungkin. Ini pilihan terakhir. Tak apa! Semua orang sudah tahu ia pembunuh dan pemerkosa di ibu kota. Biarkan saja jeruji besi kembali mengurungku, demikian tantangnya. Ini akan lebih membuatnya nyaman, ketimbang menyaksikan Asri bersama lelaki lain. Tahuri tahu dirinya memang sampah usang. Tetapi tak sepatutnya perempuan berwajah permakan itu mencampakkannya begitu saja.
***

Senja kian meremang manakala Tahuri tergesa melarikan motor tuanya. Tujuannya hanya satu, hotel melati tempat kos Asri dan lelaki barunya. Tahuri berjanji akan menghajar lelaki itu, hingga titik darah penghabisan. Asri atau lelaki itu, salah satu dari mereka harus binasa. Ia bertekad harus memperjuangkan harga dirinya. Bukan aku yang harus terkapar berlumur darah! Ini tak akan terjadi, janjinya. Sebentar lagi, dunia akan melihat kembali siapa Tahuri.

Di benak lelaki berambut cepak itu berputar-putar banyak kejadian. Ia ingat saat pertama kali tiba di Bandungan. Terbayang bagaimana ia bersusah payah beradaptasi di kota sejuk Ambarawa sejak pelariannya dari Jakarta. Asri-lah perempuan pertama yang mengajaknya bicara ketika yang lain gamang melihat penampilannya yang serupa pengemis jalanan. Seperti puzzle, potongan-potongan kejadian itu terus menghempas pikirannya dan mencipta kenangan.

Di Bandungan, di sebuah kafe sederhana berlampu temaram dan beraroma alkohol juga kemaksiatan, Tahuri mengenal Asri, gadis Sunda yang lincah dan matang. Sejak itu, tempat hingar di dataran tinggi ini, menambat hati Tahuri. Ia tak ingin meneruskan langkah sejak Asri memintanya menjadi pelindung. Mengenal perempuan berkulit langsat itu, ia seolah menemukan mata air kehidupan. Dan, enam puluh purnama bukan waktu yang sebentar untuk mengukir kebersamaan. Lalu putus? Ah, itulah yang paling ia takutkan sejak awal. Kini, cinta membuat gelisah pikiran Tahuri terus bercabang; antara membunuh perempuan itu atau kekasih barunya.

Tiba di sebuah kamar yang ia incar, Tahuri merandek sejenak sebelum mendobrak pintu kayu yang tampak rentan. Gigil menerpa tubuhnya saat mendapati kamar itu kosong. Yang ia yakini, Asri dan lelaki itu pernah berada di sini. Ada beberapa lembar kemeja dan jeans yang belum sempat dirapikan. Hmm, pasti ada yang membocorkan kedatangannya, Tahuri mengumpat seiring darahnya yang mendadak naik ke ubun-ubun. Lelaki itu berhenti memukuli tembok saat pemilik hotel datang mengingatkan. Ulahnya kini menjadi tontonan banyak orang.

Tahuri berusaha tenang. Ia menghirup udara sejuk pegunungan di teras depan kamar. Sudah jam 7 malam, tak ada tanda-tanda Asri bakal pulang. Beberapa kafe di jalan Kendalisodo mulai hingar oleh musik dangdut koplo yang sedikit memekakan. Dari beberapa ruang karaoke, dentuman musik–meski kadang samar karena terhalang peredam–menghentak dalam. Jalanan cukup ramai. Dari bawah, dari arah Semarang lampu-lampu kendaraan yang merambat naik terlihat merantai. Beberapa pegawai karaoke yang merangkap juru parkir, sibuk memikat pengunjung yang akan mencari hiburan agar sudi mampir. Mereka tampak unik; pakaian berdasi atau seragam khas dan tutup kepala milik Santa.

Di sisi rumah yang bersebelahan dengan salah satu ruang karaoke, beberapa anak lelaki dan perempuan memakai pakaian Muslim berkejaran. Mereka bergurau beberapa saat sebelum akhirnya seorang lelaki berkopiyah memanggil mereka masuk, untuk mengaji. Sepertinya, mereka tidak peduli dengan situasi semarak di sekitarnya. Sangat jelas, mereka pun abai akan kehadiran orang-orang yang menghibur diri di sekitar tempat itu.

Mata Tahuri yang hitam dan kecil mengerjap. Tiba-tiba saja ia teringat kampung halamannya di pedalaman Banyuwangi. Ada sebuah langgar tempat ia menghabiskan waktu bersama teman-teman saat usia belasan. Tahuri pernah sebentar belajar mengaji di sana. Selebihnya, ia lebih banyak bergurau, kemudian akhirnya malas datang lagi. Bahkan, selepas SMP, ia memilih bekerja di kota lantas memiliki teman dan dunia baru. Ia sekali pulang ke desa saat bapaknya mangkat. Tahuri tak tahu kapan listrik masuk ke desanya. Yang jelas, saat anak lelakinya–hasil pernikahan dengan Ratrih, gadis tetangga yang sahaja–berusia sembilan, langgar itu sudah benderang. Di langgar itu pula Bimo, anak tunggalnya belajar mengaji, meskipun lebih sering ogah-ogahan kendati dipaksa, seperti yang sering dilakukan bapaknya dahulu.

Segalanya berubah begitu cepat. Ratrih berubah. Tahuri yang salah memang, berani berkhianat dan menduakannya. Ratrih yang tak berdosa menjadi tertuduh dan ia siksa hanya untuk mencuci tangan. Perempuan itu tak protes. Tetapi kedua orang tuanya tak menginginkan Tahuri lagi. Itu pula sebabnya ia memilih pergi meninggalkan isteri dan anak lelakinya yang saat itu menjelang enam belas tahunn. Ia tak ingin anaknya tahu bahwa dirinya seorang bajingan. Bocah ceking dan ingusan itu mungkin sudah menjelma lelaki dewasa sekarang. Ah, sudahlah. Tahuri tak pantas menjadi melankolis! Sejak lama ia sudah tak ada bagi mereka. Tahuri sekarang hanya milik Asri, perempuan yang sama sekali tak memiliki masa depan.
***

Tahuri tergagap saat sebuah goncangan mendera tubuhnya. Rupanya ia lelap dalam kamar dengan pintu yang sudah ambrol dan tanpa penerangan. Asri, perempuan yang ia nanti ada di depan mata. Nanar, lelaki itu bergegas menyambut dengan penuh harap.

“Jangan, Kang,” tolak Asri menghindari dekapan lelaki itu.

“Asri, aku sudah bersumpah,” Tahuri berusaha menekan suaranya, “tak akan ada lelaki lain yang menggantikanku. Ngerti kowe, Sri? Kamu hanya milikku!”

Eling atuh, Kang. Eling! Asri ini milik semua orang.” Asri berusaha tetap tenang. “Asri ini PSK, kupu-kupu malam, lonte, Kang. Naha Akang poho?”

“Tapi kamu sudah janji, aku yang akan jadi penjagamu!” Tahuri berang. Suaranya berdentam-dentam memekakan telinga, berlomba dengan hingar musik di sekitar. “Aku memang seorang tukiman, gaweanku mung turu, laki lan mangan. Tapi bukan berarti aku tak memiliki rasa cinta, Sri. Aku ki ora mung dadi parasit. Aku serius sama kamu, ngerti ora kowe, Sri?”

Hampura, Kang. Asri punya tukiman baru. Dia ada di sini. Asri ….”

Tahuri merangsek, melabrak. “Bangsat kowe, Sri. Bajingan. Genjik!” teriaknya kalap. Tangannya yang kokoh mencengkram leher Asri yang jenjang. “Modar kowe, Sri!

Perempuan ini tak akan berjaya, yakin Tahuri. Apapun usahanya untuk lepas dari amukannya tetap saja sia-sia. Namun, sebelum napas perempuan itu sirna, Tahuri merasakan hentakan dasyat mendera tubuhnya, membuatnya terjungkal. Cengkraman di leher Asri terlepas dan perempuan itu gegas berdiri mencari-cari penerangan. Ruangan menjadi benderang. Tahuri berbalik menyerang lelaki yang telah membuatnya tersungkur–menjatuhkan harga dirinya.

“Pak!” pekik lelaki muda itu setengah gamang. “Ba-pak?!”

“Bimo?! Asri, apa-apaan ini? Ini tak mungkin ….” Tahuri tak mampu meneruskan ucapannya. Tubuhnya lunglai seperti menyaksikan dua wajah setan.
***

Yogyakarta, 2 Okt 2015

=============================

Cerpen tercepat dimuat media dalam perjalanan karir menulisku. Dikirim tanggal 2 Oktober 2015 dan dimuat di Radar Banyuwangi (Jawa Pos grup) dua hari kemudian, 4 Oktober 2015
Terima kasih sudah membacanya dan jangan lupa kritik dan sarannya ya.

2 thoughts on “Tukiman Tahuri

  1. Sebuah cerita yg membuat pembaca terhentak-hentak. Dan ciri khas dari pak Redy ending manis namun miris ^_^ pantes saja tak berselang lama cerpen ini langsung muat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *