Sehat Tak Perlu Mahal

Reno masih duduk dalam diam. Melihat teman-temannya berhambur ke luar kelas untuk makan siang, ia hanya memandangi kotak bekalnya. Ada keinginan untuk membuka kotak itu segera. Rasa lapar menyerang. Tapi ia mengurungkan niatnya ketika Edo, teman sebangku berlari menghampiri.

“Kamu nggak makan bareng lagi, Ren?” tanya Edo heran.
“Hmm, aku … aku belum lapar,” kilah Reno berbohong.
Edo duduk di samping Reno. “Sekarang kamu jarang gabung sama aku, Kamu sering makan sendiri di dalam kelas. Kenapa?”

11403270_10204581425235885_2195744261868301057_n Reno memandangi sahabatnya dengan wajah sendu. Ia ingin bercerita yang sebenarnya. Tetapi Reno takut Edo akan menertawakan dan mencemooh seperti yang dilakukan Gilang dan Maya beberapa hari yang lalu. Ia juga takut jika Edo tak mau berteman lagi. Edo sahabatnya sejak dulu hingga sekarang mereka duduk di bangku kelas dua.
“Ada apa, Ren?” Edo mengulang pertanyaannya.
“Nggak ada apa-apa. Seriusan.”
“Kalau gitu, kita makan bareng yok,” ajak Edo. Ia berdiri dan memandangi Reno. “Kita masih sahabat, kan, Ren? Kalau ada masalah, aku sering cerita sama kamu, kan? Kita sudah janji akan saling membantu. Ingat, kan?”

Reno menarik napas berat. Dipandanginya sahabatnya yang berdiri di depannya dengan senyum tulus. Reno tahu, Edo sahabat yang baik dan rajin menolong sesama. Ia anak orang kaya, tetapi tak pernah sombong atau pilih-pilih teman.
“Mau cerita, kan?” pancing Edo melihat sahabatnya ragu.
“Iya, Do. Maafkan aku ya,” ujar Reno kemudian. “Aku malu makan bareng kalian. Sekarang Ibu sering memberi bekal yang aneh-aneh. Makanannya ndeso semua.”
“Makanan ndeeso? Maksudnya apa, Ren?”
“Kamu tahu? Sudah seminggu ini Ibu nggak pernah ngasih burger, fried chicken, pizza atau makanan kesukaanku lainnya. Semuanya diganti dengan tempe, pepes ikan atau pecel. Aku malu makananku seperti itu. Nggak keren banget!”

Percakapan mereka tak sengaja didengar oleh Ibu Emy, wali kelas mereka. Perlahan, Bu Emy menghampiri keduanya. Dibukanya kotak bekal yang ada di pangkuan Reno.

“Ren, kamu tahu tidak? Pecel, tempe dan ikan itu makanan yang sangat bagus untuk kesehatan. Ibumu sangat tepat memberikan ini untukmu,” ujarnya lembut.

“Tapi, Bu ….”

“Indonesia adalah negara yang kaya dengan makanan tradisional yang sehat dan bergizi,” sambung Bu Emy lagi. “Masyarakat kita kadang menganggap makanan tradisional itu tidak keren. Banyak yang menganggap makanan ala Barat itu sehat dan modern. Ada juga loh makanan Barat yang hanya enak dilihat, tapi tak ada gunanya bagi tubuh kita.”

Reno memandangi Edo dan Bu Emy bergantian. Ia mulai mengerti. Pasti itu sebabnya, Ibu mengganti makanan instant dan fast food dengan makanan tradisional bergizi.

“Sekarang makanlah bekalmu. Ibu kagum dan bangga loh pada ibumu. Ia sangat memperhatikan kesehatanmu,” puji Bu Emy lagi.

“Terima kasih, Bu,” ujar Reno tulus. Senyumnya mengembang. “Tapi benarkah pecel dan pepes ikan saya lebih sehat, Bu? Bagaimana dengan nugget, sosia ….”

“Besok akan Ibu jelaskan lebih banyak di kelas. Yang jelas, makanan tradisional buatan ibumu tidak mengandung pengawet. Tidak ada pewarna atau penyedap buatan. Sayuran juga lebih banyak seratnya,” jelas Bu Emy lagi.

“Kata Mama, makanan yang sehat dan bergizi tidak perlu mahal,” timpal Edo sambil tersenyum. Ia lalu memamerkan isi kotak bekalnya. “Lihat, makananku juga hampir sama dengan punyamu. Hari ini Mama buat gado-gado dan mangut lele. Jadi, sekarang nggak perlu malu lagi untuk makan bareng, ya.”

Reno merangkul bahu Edo dan berjalan keluar kelas dengan ceria. Dalam hati ia berterima kasih pada Ibu. Meskipun bukan orang kaya, tetapi Ibu selalu memperhatikan makanan untuk keluarga. Aku bangga pada Ibu, bisik Reno dalam hati.

Edo mengajak Reno duduk di teras depan kelas lalu melahap makan siang mereka. Bu Emy tersenyum bangga memandangi kedua muridnya dari jauh.

***

===============================

Setelah menungu kurang lebih 7 bulan, akhirnya dimuat di Majalah Bobo Tahun XLIII 18 Juni 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *