Jilbab (Love) Story


Jilbab (Love) Story

1. Nilai/pesan moral yang ingin disampaikan
Jilbab tidak hanya untuk memenuhi sebuah janji pada diri sendiri dan bukan sekadar aksesoris sebagai pelengkap berpakaian.

2. Konflik
Utama: Dilema antara popularitas/kebutuhan atau kewajiban sebagai muslimah.
Tambahan: Ambisi Keyzia yang besar rela melakukan apapun untuk menghalangi jalan Melody menuju sukses.

3. Nilai islami
– Tentang makna berjilbab
– Cobaan adalah sebuah ujian dari Allah
– Allah sang Penunjuk Jalan
– Tentang arti ikhlas dan tawakal

4. Tokoh
a. Utama:
– Melody: cewek SMA berusia 17 tahun. (Protagonis)
– Keyzia: cewek SMA berusia 17 tahun. Teman satu sekolah. (Antagonis)
– Ryan: teman sekelas, sahabat Melody (Protagonis)

b. Pendamping:
– Bu Warti: nenek Melody
– Zen: adik lelaki Melody
– Nuri, Maya Arum: sahabat lama Melody
– Pak Bob dan Pak Jay: Produser

5. Setting
– Yogyakarta (Sekolah, rumah dan rumah sakit)
– Jakarta


Sinopsis:

Sebuah ajang adu bakat bernyanyi telah membawa Melody–siswi SMA Budi Utomo 3 Yogyakarta berusia 17 tahun–ke dunia yang baru, dunia yang selama ini hanya ada dalam impiannya. Para juri menobatkannya sebagai diva remaja pendatang baru yang namanya dielu-elukan dan menjadi idola seantero Nusantara. Dunia hiburan dan masa depan yang sangat cerah terbentang luas di hadapannya. Inilah jalan hidup yang sejak lama dia dambakan–bukan saja karena hobi, tetapi lebih pada keinginannya untuk mengubah nasib keluarganya menjadi lebih baik.

Namun, Melody dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit. Seorang produser menawarinya untuk rekaman dan tampil exclusive di salah satu stasiun TV ternama dengan syarat yang sangat berat; melepas jilbabnya. Atau menolak tawaran emas itu dan membiarkan Keyzia–runner up di ajang yang sama dan sekaligus teman satu sekolah yang sombong dan ambisius–menggantikan posisinyanya. Melody sangat tahu, Keyzia tak akan membuang peluang besar. Dia akan melakukan segala cara demi ambisinya, menjadi cewek terkenal dan memiliki banyak fans.

Sejujurnya, hati kecil Melody pun tak rela kehilangan peluang itu. Dia berpikir, inilah rizki yang diberikan Allah kepadanya. Namun di sisi lain, dia merasa syarat itu tak mungkin bisa dia terima. Melepas jilbab yang belum genap dua tahun dia kenakan, rasanya sangat tak mungkin. Melody sudah berjanji pada dirinya, apapun yang terjadi tak akan melepaskan jilbab itu. Janji itu tertanam dan mengakar kuat di hatinya.

Ingatan cewek jangkung bermata jernih itu mengembara jauh. Kejadian demi kejadian tergambar jelas di benaknya seperti tayangan film tanpa jeda.
Dua tahun lalu, selepas SMP Melody sangat ingin diterima di SMA Budi Utomo 3, sekolah favorit di Yogyakarta. Dia tak putus asa meski Bu Warti, nenek satu-satunya yang selama ini membantu membiayainya tak memiliki uang berlebih.

Keinginan Melody begitu kuat. Tekadnya sudah bulat. Dia tak mau mundur sebelum membuktikan bahwa bukan hanya anak-anak orang kaya saja yang bisa menjadi siswa di sekolah favorit tersebut. Dia yakin dan percaya Allah akan menunjukan jalan dan membantunya. Lalu dia pun ber-nazar akan memakai jilbab selamanya jika dia bisa lulus ujian masuk dan diterima di SMA tersebut.

Melody diterima di SMA Budi Utomo 3. Tetapi pada saat bersamaan dia harus menelan pil pahit; kehilangan tiga orang teman bermainnya sejak SMP, Nuri, Maya dan Arum. Mereka bukan saja sahabat tempat berbagi, tetapi lebih dari itu menjadi saudara yang selalu ada dalam suka dan duka. Ketiga sahabatnya perlahan menjauhinya ketika mereka tahu nazar yang diucapkan Melody bukan hanya isapan jempol belaka.

Pada awalnya, Melody sadar ini hanya sebuah nazar, sebuah janji pada Tuhan yang sangat takut dia ingkari. Namun perlahan dia paham, jilbab bukan hanya pelengkap berbusana. Jilbab bukan hanya sekedar trend dan gaya, tetapi lebih dari itu menjadi indentitas bagi kaum muslimah. Itu sebabnya, dia ikhlas dijauhi teman-temannya ketimbang harus mengingkari janjinya.

Kesadaran itu pula yang kemudian mengubah gaya hidup dan karakter Melody. Dia berusaha membatasi diri dari hal-hal yang mubazir dan tak mencerminkan tingkah laku seorang muslimah. Meskipun dia tidak serta merta menjadi muslimah yang fanatik dan menutup diri dari pergaulan, namun ketiga temannya menganggap dia bukan lagi teman yang asyik dan gaul; bukan lagi teman yang bisa diajak nonton mid night movie dan nongkrong di café-café atau hang out di tempat-tempat hiburan. Dia sudah kehilangan tiga sahabat baiknya karena jilbab. Dan ini merupakan pukulan yang tak pernah mampu dia lupakan hingga kapanpun. Lantas, haruskah sekarang dia rela melepas jilbab itu?

Ujian ini sangat berat. Terlebih ketika Melody pulang dari Jakarta, dia dihadapkan pada kenyataan pahit lainnya. Zen, adik lelaki satu-satunya mengalami kecelakaan sepulang dari Kaliurang setelah semalaman merayakan kemenangan Melody bersama teman-teman sekolahnya.

Melody amat terpukul. Dia tak ingin kehilangan anggota keluarga untuk kesekian kalinya. Kehilangan Papa dan Mama pada saat gempa melanda Bantul dan sekitarnya pada 2006 lalu, sudah cukup membuatnya trauma dan sempat kehilangan gairah hidup.
Lagi, tragedi pilu delapan tahun lalu menyeruak memenuhi ingatannya. Adegan detik-detik kehilangan itu kembali hadir dan membuatnya semakin lemah dan terpuruk. Dia tak mampu berpikir bagaimana menyelamatkan Zen dan bagaimana menolak tawaran sang produser ketika mengulang tawarannya.

Beberapa hari Melody terpaksa absen di sekolah karena harus menunggui Zen di rumah sakit. Dia tak ingin meninggalkan Zen sendiri di ruangan itu, meski Oma dan dokter menyarankan untuk tetap melakukan aktivitas seperti biasanya.
Keadaan ini membuat Ryan–sahabat dekatnya di sekolah–merasa prihatin. Apa lagi ketika melihat keadaan Melody yang berantakan dan terlihat lemah. Ryan berharap dia bisa menjadi sahabat yang sebenarnya, menjadi sahabat yang bisa berbagi dalam suka dan duka.
Ketika Melody tertidur karena kelelahan, tanpa sengaja Ryan membaca sms di hp Melody yang tergeletak di meja kecil ‘saya akan datang. Kamu bisa tandatangan kontrak’. Dengan hati-hati Ryan membujuk Melody untuk bercerita. Pada saat itulah Ryan mendengarkan cerita mengejutkan di balik suksesnya ajang pemilihan bakat beberapa waktu lalu. Lebih mengejutkan lagi, Melody menyetujui persyaratan yang diajukan dan dia bersedia menandatangani kontrak kerjanya.

Mendapat kabar Zen kecelakaan, Keyzia menjenguknya di rumah sakit. Dia bertemu Melody dan neneknya lalu menayatakan keprihatinannya dan bersedia melakukan apapun untuk membantu Melody dan keluarganya. Nenek memuji kebaikan cewek cantik dan kaya itu. Dalam pandangan Nenek, Keyzia termasuk cewek langka. Di jaman sekarang, sudah jarang ditemukan anak muda seperti dia.

Setelah Keyzia pergi, Melody mengingatkan Nenek agar jangan mudah tertipu dengan penampilan. Tetapi tanggapan Nenek sangat di luar dugaan. Ia menuduh Melody rasis, hanya karena tahu Keyzia setengah Tionghoa.

Sementara itu, Ryan gelisah dengan keputusan Melody. Dia paham jika Melody merasa tak punya pilihan lain untuk menyelamatkan Zen. Tetapi di balik itu, Ryan yakin, bukan itu yang diinginkan Melody. Ryan berjanji pada dirinya sendiri, dia akan berbuat sesuatu untuk sahabatnya itu. Lalu, dia bersama beberapa teman mencoba mengumpulkan dana dari teman-teman lain di sekolah.

Keyzia mengetahui rencana Ryan. Dia mempengaruhi Ryan untuk menghentikan aksinya dan bergabung bersama kelompoknya. Keyzia akan membuat aksi panggung untuk menggalang dana. Teman-teman Ryan lebih memilih merapat pada Keyzia dan kelompoknya. Mereka merasa aksi yang akan dilakukan Keyzia berpeluang lebih besar menarik simpatik. Ryan harus mau berlapang dada ketika aksi sosialnya sepi pendukung.
Pada satu kesempatan, Melody mengunjungi desanya di Pundong, untuk sekedar melepas rindu pada tanah kelahirannya dan para tetangga di sana. Dia menyadari sudah berapa lama tak pernah datang ke sana sejak Nenek memboyongnya ke Yogyakarta.

Di kuburan Ayah dan Ibu, Melody mencurahkan semua kesedihan dan keresahannya. Pada kedua orang tuanya dia mengadu betapa hidup ini berat untuk ia jalani. Dia yang masih rapuh, tak akan sanggup menahan semua cobaan yang datang seolah tak pernah ada jeda.
Melody dikejutkan oleh kehadiran wanita berkerudung putih yang tiba-tiba berdiri di depannya. Ia yang saat itu pikirannya kacau, mengira wanita itu adalah jelmaan malaikat yang akan membawa rohnya menghadap Allah.

Ryan datang ke rumah sakit, bermaksud menemui Melody dan melihat keadaan Zen. Tetapi yang dia temui justeru Keyzia bersama Pak Bob, produser dari Jakarta. Kesempatan itu digunakan Keyzia untuk menghasut Nenek dan Pak Bob bahwa hilangnya Melody ada hubungannya dengan Ryan. Saat itulah Nenek mecium ada niat licik di balik kebaikan Keyzia. Apalagi ketika Keyzia mendesak Pak Bob untuk membatalkan kerja sama dengan Melody dan memberikan kesempatan kepadanya.

Meski Ryan tak tahu-menahu bagaimana Melody tiba-tiba menghilang, Nenek memintanya untuk membantu menemukan Melody. Sebagai sahabat, Ryan berjanji akan mencari dan menemukan Melody.

Nenek baru menyadari, murungnya Melody ada hubungannya dengan tawaran Pak Bob dan persyaratan yang diajukannya. Yang dia tak paham, kenapa selama ini Melody tak pernah bercerita apa sesungguhnya yang telah dialaminya. Nenek berusaha menghapus pikiran buruk tentang Melody. Saat ini dia harus fokus pada keselamatan Zen. Sebentar lagi, tim bedah akan selesai melakukan operasi pada paha dan kepalanya.

Melody datang pada saat yang tepat. Sambil menunggu Zen keluar dari ruang operasi, dia bercerita tentang kejadian yang tengah dialaminya. Saat itu pula dia tahu, kesempatan untuk rekaman dan tampil di stasiun TV pupus sudah. Keyzia telah mengambil lahannya.
Melody menyampaikan maaf dan rasa menyesalnya, kenapa dia tak pernah bercerita persoalannya pada Nenek. Semua ini hanya karena Melody tak ingin lebih membebani Nenek dengan persoalan baru.

Melihat besarnya tagihan yang harus mereka bayar, Nenek dan Melody panik. Bagaimana harus mendapatkan sejumlah uang dalam waktu yang singkat? Namun Melody berusaha menenangkan Nenek. Dia berjanji akan mencari jalan ke luar. Yang ada dalam pikiran Melody saat ini hanya Pak Bob. Yah, dialah satu-satunya harapan Melody saat ini.
Di Jakarta, Pak Bob kecewa dengan kualitas vokal Keyzia. Dia tahu cewek itu sangat menarik dan cantik, tetapi dia yakin semua orang tahu suara dia sangat tak layak dibilang sebagai penyanyi. Keyzia membujuk Pak Bob untuk tetap meneruskan proyeknya. Dia bersedia melakukan apapun untuk mewujudkan mimpinya. Tetapi Pak Bob bukan lelaki yang gampang dirayu. Sebagai produser terkenal, tentu tak akan dia pertaruhkan begitu saja.
Saat pikirannya kacau, Pak Bob dikejutkan dengan telepon dari Melody. Cewek itu memohon diberi kesempatan. Melody menyatakan sanggup memenuhi semua persyaratan, semua demi Zen, adik satu-satunya yang sangat dia cintai. Pak Bob meminta Melody datang ke Jakarta sesegera mungkin.

Malam ini penampilan ekslusive Keyzia akan disaksikan jutaan pasang mata di Nusantara. Dia akan tampil live di televisi menggantikan posisi Melody. Tentu, bukan Pak Bob namanya jika dia tak cerdik memanipulasi semuanya. Dia meminta Keyzia tampil secara lipsinc, sementara di belakang layar Melody mengisi suara. Pak Bob telah memberikan sejumlah untuk menutup semua biaya rumah sakit dengan syarat, Melody harus mengisi suara Keyzia selama acara. Itu kesepakatannya.

Di belakang layar, Melody bernapas lega. Hatinya merasa tenang karena sore tadi Pak Bob sudah mentrasfer sejumlah uang ke rekening Nenek. Dia ikhlas tidak tampil di televisi seperti yang sebentar lagi akan dilakukan Keyzia. Inilah kesempatan yang diberikan Pak Bob karena Melody bertahan tak mau melepas jilbabnya.

Melody menyelesaikan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Meski hati kecilnya tetap berontak, merasa telah membohongi jutaan penonton di tanah air. Entahlah, dia merasa ini tidak benar. Ini dosa. Ketika selesai acara, Melody keluar dari studio dengan tergesa. Keinginannya hanya satu, dia harus mendapatkan tiket kereta ke Jogja dengan segera. Telepon dari Nenek mengabarkan Zen sudah sadar.

Ketika dia tengah berpikir bagaimana mendapatkan tiket dengan segera. Seseorang menghampirinya. Dengan ramah lelaki paruh baya itu menyodorkan kartu nama berwarna putih. Pak Jay, seorang produser rekaman.
Dalam kebingungan, tak diduga, Melody mendapat tawaran rekaman album perdana dari Pak Jay. Ternyata, lelaki itu tahu semua yang dilakukan Melody di balik layar studio.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *