Ritual

Barangkali banyak di antara kalian yang pernah mendengar istilah kata ritual, misalnya saja; ritual grebeg sekaten yang di adakan di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta, ritual merti dusun yang diadakan beberapa desa di Pulau Jawa, atau bahkan ritual ngaben di Bali.

Ritual berasal dari kata ritus. Dalam bahasa sehari-hari dapat diartikan sebagai tatacara upacara keagamaan atau kepercayaan. Dengan demikian, ritual selalu dijumpai pada upacara atau tatacara agama, dan ada pada hampir semua agama, misalnya dalam bentuk tatacara ibadah baptisan, kurban, doa, tarian, nyanyian, ziarah, dan sebagainya, baik ibadah pribadi maupun bersama orang lain.

sacr

Dari beberapa penelitian disebutkan bahwa ritual lahir sejak adanya peradaban manusia di muka bumi. Beberapa contohnya bisa dijumpai dalam bukti-bukti temuan masa lalu di beberapa tempat di beberapa negara terutama yang kental dengan kehidupan primitifnya. Diyakini, salah satu ritual yang paling kuno adalah ritual ziarah, salah satunya ziarah kubur atau naik haji yang di lakukan oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia.

Mungkin ada yang bertanya, untuk apa manusia melakukan ritual? Di antara bangsa-bangsa primitif para pelaku ritual itu memberikan jawaban dengan istilah mistis (hal-hal yang bersifat mitos). Maka, mitos bagi Suku Tikopia (suku sebuah pulau kecil di Samudera Pasifik) memberikan pembenaran untuk upacara masakan yang panas dengan alasan bahwa Tuhan telah mengatur hal ini, Tuhan idup di dunia, jauh sebelum saat ini mempunyai kebiasaan makan semacam itu.

Theodor H. Gaster (1906–1992) dalam bukunya “Myth and Story” mengungkapkan, dalam masyarakat tradisional, kegiatan-kegiatan ritual umumnya dapat dijelaskan dengan istilah-istilah mitis, dimana mitos memberikan pembenaran untuk berbagai upacara. Sekalipun ada kemungkinan bahwa banyak ritual pada masa silam berlaku tanpa mitos-mitos, akan tetapi pada tingkat perilaku manusia dapat diamati dua fenomena: ritus dan mitos, berjalan seiring.

images

Arnold Charles Kurr van Gennep (1873-1959), seorang yang mempelajari tentang ritual dan cerita rakyat, menjelaskan bahwa tujuan ritual itu bermacam-macam, ada yang bertujuan untuk menjamin perubahan yang cepat dan menyeluruh pada keadaan akhir yang diinginkan oleh si pelaku ritual. Contohnya, Bangsa Tobriander (suku kuno yang hidup di Papua New Guinea) ingin agar panenan berhasil sehingga mereka melaksanakan ritual untuk mendapatkan musim tumbuh yang baik dan panenan yang berhasil. Atau ada juga ritual yang bertujuan untuk mencegah perubahan yang tidak diinginkan. Contohnya ritual yang dilakukan untuk mencegah datangnya hujan atau sebaliknya. Dan masih banyak lagi tujuan ritual-ritual lain yang semuanya diarahkan pada masalah perubahan keadaan dalam diri manusia atau alam.

Beberapa ahli membedakan ritual menjadi empat, yaitu;
1) Tindakan magis, yang dikaitkan dengan penggunaan benda-benda yang bekerja karena daya mistis.
2) Tindakan religius, yang berhubungan dengan agama. Ziarah dan pemujaan terhadap leluhur juga masuk ke dalam kelompok ini.
3) Ritual konstitutif yang mengungkapkan atau mengubah hubungan sosial dengan merujuk pada pengertian-pengertian mistis sehingga upacara-upacara kehidupan menjadi khas.
4) Ritual faktitif, yang meningkatkan produktivitas atau kekuatan, atau meningkatkan kesejahteraan materi suatu kelompok.
5) Ritual intensifikasi, ritus kelompok yang mengarah pada pembaharuan dan peningkatan kesuburan, ketersediaan buruan dan panenan.

Nah, bagaimana kegiatan ritual di zaman modern sekarang ini? Ternyata masih banyak sekali yang melakukannya. Jenis dan fungsinya sudah pasti termasuk ke dalam penjelasan di atas tadi. Hanya saja, yang perlu kita cegah dampak negatif dari ritual tersebut, misalnya ada kecenderungan untuk menjadikan ritual sebagai pengganti agama. Jangan sampai kita hanya mengikuti ritual tanpa tahu dan menghayati keimanan dan perkembangan kerohanian dengan baik. Sebaiknya kita melihat ritual dari sisi positifnya, salah satunya yang berfungsi meningkatkan stabilisasi peradaban. Misalnya saja bangsa-bangsa yang memeluk Islam, terlihat lebih stabil dengan adanya keseragaman ritual. Atau pada fungsi lain yaitu meningkatan jenis budaya tertentu. Kita melihat misalnya di Bali, ritualnya bermanfaat bagi turisme dan pengembangan seni. Selain itu juga fungsi lain dari ritual dianggap mampu membantu pengendalian diri manusia. (Redy)

*Untuk Majalah Kelereng

Sumber:
– Van Gennep, Arnold. 1973. Culte populaire des saints en Savoie: Recueil d’articles d’Arnold van Gennep. G.-P. Maisonneuve & Larose.
– Raghavan, V. Ṛitu in Sanskrit literature, Shri Lal Bahadur Shastri Kendriya Sanskrit Vidyapeetha, Delhi, 1972.
– http://www.bookrags.com/research/gaster-theodor-h-eorl-05
– Sumber-sumber lain yang berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *